My Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Anda pengunjung ke:

Kamis, 19 Januari 2006

Mobil jatuh ke saluran di Beurawe


Sebuah mobil Suzuki Escudo jatuh ke dalam saluran pengelak air di pertigaan jembatan Beurawe Senin, 16 Januari 2006 pukul 16.00 wib, menurut saksi mata mengatakan, supir mobil tersebut melaju dari arah jambo tape menuju simpang Surabaya, tiba-tiba dari jalur kanan sebuah sepeda motor melaju dengan cepat dan berbelok ke arah Ulee Kareeng. Merasa terjepit dan kaget, supir langsung membanting stir kemudi kearah kiri, dan tanpa disadari ada sebuah saluran air yang besar yang hampir seperti jurang terjal. Diperkirakan supir mobil tersebut tidak mengalami luka yang berarti. Kondisi mobil juga bisa dikatakan tidak terlalu parah./xca

--------------------------

Brengsek, kurang ajar, (maaf) kajak ‘ok ma, kajak pap ma keudeh.

Mungkin itu adalah kata-kata yang paling sering kita lantunkan bila ada orang mengganggu kenyaman kita memakai jalan raya. Serempet, terobos lampu merah, nggak ngerti rambu-rambu (kalo nggak mau dikatakan cuek), nggak ada lampu sen dan banyak lagi permasalahan di jalan raya yang seharusnya menjadi tanggung jawab penegak hukum (kalo emang polisi tidak mau disalahkan sendirian) untuk menertibkan lalu lintas.

Wait a minute, menertibkan???

Bisa nggak kita hitung berapa banyak aparat keamanan yang ugal-ugalan di jalan, berapa banyak dari mereka yang nggak memakai hlm, berapa banyak dari mereka yang terobos lampu merah. Yaaaa seperti kata pepatah, kalo ayah kencing berdiri, maka anaknya akan kencing sambil berlari.

Memang, masalah jalan raya bukan saja masalah polisi semata, tapi kalo kita ingin berbesar hati, semua kita pasti pernah melakukan kesalahan di atas aspal itam. Kesadaran dan pengertian penggunan jalan dan juga ketegasan penegak peraturan harus ditingkatkan.

Pritttttttttttt,

“selamat siang pak, tolong SIM dan STNK-nya, bapak ditilang karena tidak memakai helm.”

“ maaf pak, saya lupa bawa helm, karena rumah saya dekat kok dari sini”

“ini peraturan pak, mau dekat, mau jauh itu urusan bapak, urusan saya adalah menegakkan hukum. Bapak mau menyelesaikannya di pengadilan atau bayar disini, biaya tilang Rp. 35.000,-“

“aduh, gimana pak, saya nggak bawa duit nih, tapi saya punya Rp. 10.000, gimana pak”

“anda jangan menghina saya yaa”

“ya udah saya tambah Rp. 5000” sesudah perdebatan yang sangat panjang (sebetulnya sih memperdebatkan gengsi).

“ yaa udah sini, besokk kalo jumpa saya lagi, dan nggak pake helm saya tilang”

“ok, makasih pak”

Haa, pemandangan itu sangat sering di dapat di kota kesayangan kita ini, Banda Aceh, terlebih ditempat-tempat nongkrongan mereka.

Mungkin kamu atau kamu dan kamu juga aku sering melakukan itu, hanya sedikit transaksi, and allrigth, deal.

Anak muda ugal-ugalan, siswa bolos sekolah, kecelakaan lalulintas karena ugalan, budaya antri yang tidak tahu rimbanya, tong sampah yang tidak pernah dibuka untuk membuang sampah (kalo nggak mau dikatakan jorok), mungkin akan terus berlanjut di kota ini bila “sang ayah” tidak akan pernah belajar “kencing” sambil duduk

0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan memberikan komentar terkait dengan isi tulisan di atas. Mohon maaf jika saya terpaksa menghapus komentar yang tidak berhubungan dan/atau terkesan hanya mencari backlink tanpa komentar yang berbobot.