My Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Anda pengunjung ke:

Selasa, 19 September 2006

Membeli Buku dalam Plastik

Siapa sih yang nggak pernah membeli buku.
Pelajar, Mahasiswa, Pegawai, Karyawan, Ibu Rumah Tangga, Kontraktor, Petani, Nelayan, dan semua orang yang bisa membaca pasti pernah membeli buku.
Baik itu berupa buku pelajaran maupun buku ilmu pengetahuan lainnya. Tapi umumnya buku-buku yang di jual di toko buku di segel dengan plastik, mengisyaratkan bahwa calon pembeli tidak boleh melihat isi apa yang terkandung didalamnya.

Paling tidak itu yang terjadi di beberapa toko buku, bahkan bisa dikatakan hampir semua toko buku memberlakukan syarat seperti itu di Banda Aceh. Pembeli dipaksa membeli buku dalam plastik. Bagi sebagian orang mungkin tidak mempermasalahkan hal itu, tapi bagi beberapa orang itu masalah. Soalnya apa yang menjadi judul diluar tidak sesuai dengan isi yang dicerminkan, jadinya sebuah buku yang jauh dari harapan.



Memang, sah-sah saja jika kita membuat judul semenarik mungkin, dan itu adalah konsep pemasaran yang bagus. Tapi tentu saja dalam hal ini pembeli yang dirugikan.

Solusinya, paling tidak salah satu buku dari setiap judul dibuka segel plastiknya, jadi pembaca bisa melihat isi sekilas yang terkandung di dalamnya. Anehnya, jika kita menanyakan apa bisa dibuka plastiknya, jawabannya adalah "buka plastik, artinya beli". Hrgggg, kesal jadiny. udah banyak buku yang nggak bermutu menumpuk di dalam lemariku, semuanya tertipu dengan judul yang muluk-muluk. Judul emas, isinya sampah.

Seharusnya dari pihak penerbit memberikan bonus kepada para penjual dengan satu buku sampel. Sehingga penjual tidak mengalami kerugian. Karena buku yang menjadi sampel itu pasti nggak akan laku lagi, sebab pasti udah kusam dan lusuh.

Tapi, beda dikota-kota lain. Banyak toko buku di kota-kota lain selain di Aceh, menyediakan buku sampel yang tidak disegel dengan plastik, sehingga kita bisa melihat isinya. Seperti misalnya Toko Buku Gramedia dan banyak yang lainnya. Kenapa di Aceh nggak ya.

Berbicara Toko Buku Gramedia, tentunya berbicara jaringan toko buku yang katanya ada di seluruh Indonesia. Tapi kenyataannya Toko Buku ini belum pernah menyentuh tanah rencong. Padahal lahan di Aceh sangat terbuka lebar untuk industri ilmu pengetahuan. Di seputar kampus bukannya toko buku yang menjamur, tapi KFC, Restoran, Swalayan, Retail, dan warung kopi ada di mana-mana. Kapan Aceh akan bangkitttttttttttttttttttttt.

Budaya konsumerisme yang tinggi sedang menjangkiti para mahasiswa Aceh. Bangkit sekarang atau tidurlah selamanya......

4 komentar:

waduhh..kaa...
kalo masalah itu mah udah tradisi..
toko buku kita takut buka segel plastik karena tau kalo mutu buku sekarang cuma ada disampulnya doang..jadi kalo udah lihat isi pasti gak jadi beli!!!

komersirisme !!! Jati diri kita sekarang..

setiap penerbit pasti memberikan bonus untuk sample, sbaiknya anda complain pada penjual buku nya, karna sudah pasti ada jatah dari penerbit untuk sample.
banyak produsen enggan membuka cabang di aceh karna banyak faktor, mungkin salah satu nya faktor keamanan, jika warga aceh bisa menunjukan bahwa kota nya aman, saya rasa aceh bisa lebih bagus dari kota lain nya.

keprihatinan yang sama, Ka...
aku juga kepikiran yang sama...

*prihatin*

eh, kapan kita bisa ngomong2 tentang pen-dokumentasi-an? Yahh... Eka di pilemnya, aku cuma mau baca2 dokumentasi dokumenternya aja :P

xa pajan jeut taputa filem dokumenterkah di CTIN

Poskan Komentar

Silahkan memberikan komentar terkait dengan isi tulisan di atas. Mohon maaf jika saya terpaksa menghapus komentar yang tidak berhubungan dan/atau terkesan hanya mencari backlink tanpa komentar yang berbobot.