My Shout Box

Name :
Web URL :
Message :
:) :( :D :p :(( :)) :x

Anda pengunjung ke:

Minggu, 12 Februari 2006

Aparat POLISI Republik tercinta Indonesia, buta hukum




Hari ini, keberangannku kepada aparat pelayan masyarakat makin bertambah, hal ini terjadi beberapa hari yang lalu ketika aku melintasi jalan T. Nyak Arif Banda Aceh, dan hampir mendekati simpang Jambo Tapee dimana di simpang tersebut juga berdiri dengan megahnya kantor POLISI Resort Kota Banda Aceh.
Begini ceritanya.
-------------------------
Ketika dengan asyiknya aku melintasi jalan T. Nyak Arif menggunakan kereta (baca: sepeda motor) dengan santainya dan asyik merasakan angin sepoi-sepoi pada sore itu, sesekali aku melihat jarum spedometer yang dengan dinamis bergerak antara angka 20 dan 40 juga kadang-kadang 30, aku mencoba mempertahankan gerakan jarum itu di angka 30, tapi keadaanlalu lintas di jalan tersebut bisa dikatakan tidak terurus, ada yang ugal-ugalan ada yang terlalu santai dengan menggunakan lajur kanan yang seharusnya digunakan untuk mendahului kendaraan lain. Yahh, mungkin aku berfikir apa hanya jalanan di Aceh aja yang memiliki pengguna jalan fanatik seperti ini???.

Mungkin pada saat itu cuaca sangat bersahabat dengan paengguna jalan, betapa tidak, dengan suhu sekitar 28ÂșC kamu bisa berjalan tanpa menggunakan baju di jalanan, itupun kalo kamu nggak punya lagi baju. Sampai di depan SMU 3 Banda Aceh, aku melihat ada kerumunan orang tepat di depan halte bis Jambo Tapee. Di Aceh, kalo kamu melihat ada kerumunan orang seperti itu pasti ada dua kemungkinan yang terjadi, yang pertama ada kecelakaan lalu linta dan kedua razia polisi. Malah kamu nggak akan sempat ngilat tawuran anak-anak sekolah, karena itu sangat jarang terjadi di sini. Dengan irama laju kereta yang sedikit aku tambahkan untuk memuaskan rasa ingin tahuku atas kejadian itu, aku mendekati TKP (tempat kejadian perkara).

Penasaranku makin bertambah, segera kereta grand buntut punyaku itu aku parkirkan di sembarang tempat tanpa memikirkan pencurian yang makin marak aja di kota ini. Aku menghampiri kerumunan itu yang semakin lama semakin rame aja dengan orang-orang yang memiliki perasaan sama denganku. Tiba-tiba di kerumunan tersebut aku melihat seorang anak muda paruh baya yang memukul anak muda yang lainnya yang di papah karena barusan terjatuh dari keretanya yang melaju di dalam kemacetan lalu lintas. “oi.oi.oi stop, stop, brenti, sabar-sabar bang, jangan main pukul kita ngomong baik-baik” salah satu orang yang memapah korban itu membantu agar dia tidak dipukuli. Tapi pemuda itu tidak mau menghiraukan orang sekitarnya, dengan ganasnya korban tersebut dipukuli dengan brutal hingga si korban tersebut lepas dari papahan penolong tersebut dan lari dari pukulan anak muda itu.

“hai, Aidil, itu Aidil” kata-kata itu terlintas di benakku ketika melihat wajah yang sudah lesu akibat terjatuh dari kereta dan dipukul serta dikejar oleh anak muda tadi, Aidil adalah adek letingku ketika di SMU 5 Banda Aceh. Tanpa berfikir panjang aku berlari mengejar Aidil, sebetul mengejar pemuda yang akan memukul dia. Thup, thup, satu pukulan tangan dan tendangan kick boxer melayang ke muka dan perutnya yang sudah lemas dari tadi, ah kau terlambat, tapi tak apalah, aku terus saja berlari dan mendapati tangan anak muda itu yang sebentar lagi mau mengirimkan buah bogemnya kemuka Aidil sekali lagi.

“Udah, udah bang, kita ngomong baik-baik”
Tiba-tiba yang lain datang juga ikut melerai pertempuran yang nggak seimbang itu.
“kita ngomong baik-baik aja bang, jangan main mukul aja” salah satu yang melerai mengingatkan kepada pemuda itu.
Aku melihat kebelakang karena mendengar suara klakson mobil yang agak aneh, ternyata itu adalah bunyi sirine mobil patroli polisi yang sedang mendekat dan bermaksud untuk membubarkan kerumunan orang yang makin bertambah. Dengan tidak befikir lagi pemuda arogran ini menghentikan pemukulannya dan mencoba menjauh dari kerumunan. Dengan sangat cepatnya tiba-tiba seorang pemuda yang berumur sekitar 20-an dengan gaya rambut cepak, dan dengan tas samping kecil yang melingkarinya, masuk kedalam lingkaran kerumunan masa tersebut dan lansung mendapati Aidil dengan memegang tangannya.
“Aidil sekarang sudah aman, yah itu polisi” ingatku dalam hati” dan, thup satu bogem mengenai perut Aidil yang dikirim pemuda itu, “mau lari kau ya, udah nabrak orang lari kau” tanpa menanyakan kepada orang lain dan saksi mata polisi yang mengenakan baju preman itu langsung main hakim sendiri.

Melihat geligat yang nggak baik, aku kembali mendekati Aidil dan Polisi itu, “bang, dia nggak lari, malahan tadi dia mau lihat orang yang di tabrak, tapi malah dipukul, dia lari karena dipukul, lari dari orang pukul, bukan lari dari tanggung jawab” dengan mata tajam polisi itu melihat wajahku, mau nggak-mau aku harus meladeni mata tajamnya itu agar Aidil nggak dipukul lagi.

“siapa yang mukul, mana, mana, ha?”
“sana tu, sigam tuh, yang pake baju itam”
“kau jangan kemana-mana, pisahin, cari tampat duduk”
“ya bang” dengan perasaan bangga dalam hati aku terhadap polisi itu yang mau berbuat adil dan mencari pemukul tadi, “rasain lo, jangan main pukul aja” terlintas dalam benakku makian untuk pemuda yang memukul Aidil tadi.

Ternyata di TKP tersebut, Aidil nggak sendirian, selain aku abang letingnya, juga ada dua orang temannya yang modar-mandir dan memposisikan dirinya sebagai penonton sejati. Mereka dan orang-orang yang berpihak kepada Aidil manariknya ke dalam satu toko nasi di belakang halte tersebut.

“bang, abang jangan pergi dulu yaa” dengan muka yang udah memar ternyata Aidil masih kenal aku.
“ya, tenang aja kau Dil”

Dari kejauhan aku melihat polisi tadi lagi negosiasi dengan pemuda yang memukul Adil tadi, melihat geligat yang nggak akan berpihak ke Aidil, aku teringat kawan aku, juga seorang polisi, Natri, langsung aku hubungi dia dengan ponsel ku.

“Halo Nat, kau dimana nih”
“Aku dirumah nih” suara dari speaker HP
“Kau masih kenal Aidil kan, adkleting kita di SMU”
“iya, kenapa”
“dia dipukul polisi, kayaknya anak-anak baru lulus ni, bisa datang kemari kau”
Setelah aku jelasin panjang lebar, akhirnya dia mau juga datang dan menolong.

Selagi aku ngomong sama Aidil, datang polisi dengan pemuda tadi untuk membicarakan kronologis kejadian. Tapi tiba-tiba aku teringat dengan kereta ku yang aku juga nggak ingat lagi memarkirkannya di mana, “yak, itu dia” kereta buntut yang tinggal sendirian terparkir di jalan umum. Sembari aku membawa keretaku dekat dengan lokasi perdamaian J, aku langsung nimbrung ke dalam rapat yang udah berlangsung tanpa ku tadi. Akku terkejut ketika ada seorang keluarga korban yang mencak-mencak di depan Aidil, “kau pantas dipukul, gimana nggak dipukul, udah nabrak orang, ya, wajarlah dia mukul kau”, kerumunan orang makin ramai, yang sebetulnya seperti tidak ramai, satupun nggak kmembela Aidil, lalu aku bilang “bang, nggak boleh kayak gitu, walaupun dia nabrak nggak boleh main mukul, dia juga nggak lari tadi” aku membalas teriakannya yang agak sedikit berlogat Batak, tiba-tiba seorang polisi berbaju hitam teriak “udah-udah jangan ribut ini magrib”

Kemudian polisi yang pakai baju preman tadi angkat bicara dalam forum itu “dah, nggak usah diperpanjang lagi, kau yang salah, ibu itu kau bawa ke rumah sakit” dengan memegang bahu Aidil, seperti mau mematahkan bahunya dia juga ngomong lagi ke Aidil “masalah tadi kau dipukul nggak ada masalah kan, sekarang kau bilang sama aku kau ada dipukul sama dia nggak” sambil menunjukkan ke pemukul tadi, aku terkejut dengan jawaban Aidil “nggak bang, aku nggak dipukul” jawabnya dengan suara ketakutan, lalu polisi itu menanyakan kepada pemukul tadi “Di, ada kau pukul dia” dengan lantang dia jawab “nggak”.

Akhirnya aku tahu kalo pemukul dan polisi ini adalah berteman, dengan kata lain yang mukul ini juga polisi. Bayangkan aja,

  1. gimana polisi ini tahu kalo nama pemukul ini adalah Adi. Ternyata Adi itu adalah kawannya.
  2. ketika aku katakan bahwa si Aidil dipukul oleh si Adi (sigam tu), polisi itu tidak langsung menarik Adi ke depan Aidil, tetapi bernegosiasi di luar kerumunan.
  3. kenapa si Adi keluar dari kerumunan ketika mobil patroli datang. Dia takut kalo yang datang itu adalah provost, dan jika tahu dia melakukan pemukulan dia akan di tahan, dan bisa jadi diskors.
  4. kenapa si Adi langsung main mukul Aidil, padahal yang di tabrak itu nggak ada hubungan apa-apa dengan Adi. Ternyata Adi bersama pacarnya lagi duduk-duduk di halte tersebut, ketika Aidil menabrak ibu-ibu di depan matanya, dia berfikir, inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kepada pacarnya kalau dia berkuasa, dan dia adalah seorang polisi.

Hari ini terbukti sudah, bahwa polisi adalah preman tanpa beckend, mereka bebas memukul orang tanpa bukti yang jelas, dan juga mereka bisa membuat orang yang tidak bersalah menjadi bersalah.
Yah, tidak semua polisi mau disalahkan, mereka pasti berkilah “itukan oknum yang melakukan”. Tapi dengan sistem apa yang mengikat oknum tersebut, tentu saja sistem pendidikan polisi yang tidak berorientasi hukum dan moral yang dikedapankan. Apakah masih berguna kode etik polisi. Dan mungkin hanya menjadi suatu utopia penegakan hukum yang adil di negeri ini kalau penegak hukum bermental busuk dan tidak bermoral, serta buta hukum... tidak seperti dalam motto mereka PELINDUNG, PENGAYOM DAN PELAYAN MASYARAKAT"

2 komentar:

sabar... sabar ka...

kita masih berada dalam peradaban primitif yang ngandelin otot daripada otak.
jadi maklumi aja, kalo senjata lebih disenangi daripada pulpen dan buku.

aparat kita UUD aja gak apal... apalagi KUHP... liat aja sepertinya gag pernah :)

ya...betul tu ka..sabar aja..seperti kata bang alex..

skarang tugasnya POLISI udah merangkap.. selain menangkap juga langsung menghakimi dan menjatuhkan hukuman.. mungkin itu semua dilakukan biar tugas pak hakim berkurang...

inilah jaman "jahiliah modern"

Poskan Komentar

Silahkan memberikan komentar terkait dengan isi tulisan di atas. Mohon maaf jika saya terpaksa menghapus komentar yang tidak berhubungan dan/atau terkesan hanya mencari backlink tanpa komentar yang berbobot.